Selasa, 04 Maret 2014
Namaku Faris Arrofi’ Putra. Panggil saja aku Paris. Aku ingin bercerita tentang sebuah kisah cinta--kisah cintaku sendiri tentunya. Aku punya sebuah prinsip: Jika kita tidak dapat menuliskan kebahagiaan, setidaknya kita dapat menghapus kesedihan. Bersama semilir angin malam, menusuk sendi-sendi gelisahku, teringat isyarat hati—sedih. Rindu, kasih sayang, cinta dan kebencian.
Betapa tidak mati-matian aku perjuangkan—demi cinta. Selama kurang lebih 6 bulan bersamanya. bagaimana aku mengenalnya, hal yang serupa disaat itu--cintaku akhirnya yang terpilih. Begitu indah rasa-nya… sekian lama tak ku kenal wanita, akhirnya ku temukan wanita yang mencintaiku.
Bersama gemuruh ombak di lautan seakan mengisyaratkan betapa tuhan begitu detail menciptakanya, hal itulah yang senada dengan keadaanku, laki-laki yang begitu lugu tak tau apa-apa—bisa mendapatkan seorang wanita yang cantik jelita, dialah pujaan hatiku—Mayang Sari Saputri, namanya.
****
Kisah berawal dari atas jembatan asmara. Berdua berdiri di pinggir jalan. Seakan menginginkan sebuah kepastian. Rasa cinta yang tulus dibayar dengan ketidakpastian yang hampa. Berbincang-bincang—saat itu aku dan dia saling adu mulut tentang rasa.
‘’Kenapa kamu enggan memilihku.’’? Tanyaku
Angin datang bersama dinginnya malam, bersemilir diatas ubun-ubun yang butuh kepastian akan cinta.
Sekitar setengah jam ku lalui jawab-nya sama, “aku nggak mau pacaran mas,’’. Jawab Sari.
‘’kenapa?’’ tanyaku lagi dengan harapan pasti.
Entah apa dibenak-ku, bingung.
Kita sudah berjalan 4 bulan namun tak ada kepastian yang pasti. Seakan berjalan begitu saja, ya allah jika ini memang kehendakmu, aku terima—serius. Gumamku.
‘’anu mas, aku masih bingung dengan mas alvan, dia begitu jahat kepadaku.’’ Jawabnya dengan terbatah-batah.
‘’maksud adik?’’ tanyaku dengan penasaran.
‘’Aku masih mengharapkan dia, tapi mas alvan meng-hianatiku. Aku bingung mas.’’ Jawabnya dengan mata yang sembab.
‘’adik, kenapa engkau masih memikirkan laki-laki itu, apa dia pantas dipikirkan—setelah dia lari dengan cewek lain. sedangkan aku di sini--sangat mencintaimu—siap meberi warna dalam hidupmu?’’ tanyaku dengan kepastian mengebu-gebu.
Bersama malam—suasana begitu indah tak seindah apa yang kita rasa. Air mata meluncur deras membasahi dua tebing pipinya, bahunya berguncang.
‘’mas, aku sayang sama mas. Tapi sayangku beda dengan dia’’. Jawabnya dengan terbatah-batah.
adzan isya berkumandang ditengah isak tangis, tidak seindah biasanya. Hati tersayat-sayat sakit. Kalau tuhan mengiginkan aku mati saat ini, biarlah aku mati dengan cintaku ini, di benakku.
‘’mas, yang sabar. Aku belum bisa ngasih kepastian sekarang. Jujur aku sayang sama mas, tapi bukan sekarang.’’ Jawabnya seakan dia tahu perasaanku..
‘’bulsitt, asuuu.’’ benakku.
‘’iya nggak apa-apa adik.’’ Jawabku dengan kesedihan yang mendalam.
***
Malam semakin larut, burung hitam melintas dilangit petang. Tak seindah biasanya. Rasa sakit, cinta dan keinginan yang tertunda bercampur di hati. Aku putuskan menyudahi percakapan ini. Aku beranjak dari tempat—pulang. Akhirnya merebahkan tubuh lelahku di kost dengan tenang.
(Bersambung—ah, faris ditolak.hahaha.)

